Beranda
/
Artikel
/
Kesehatan
/
Syarat Donor Ginjal yang Harus Dipenuhi dan Risiko Menjadi Donor

Syarat Donor Ginjal yang Harus Dipenuhi dan Risiko Menjadi Donor

30 April 2025 | MyProtection News Jakarta

Terdapat beberapa persyaratan medis dan hukum yang harus dipenuhi untuk melakukan donor ginjal, mulai dari kondisi kesehatannya, hukum yang harus dipatuhi, hingga persetujuan medis berkaitan dengan prosedur yang akan dilakukan.

Sebagai salah satu organ tubuh dengan fungsi penting, yaitu menyaring racun dalam darah dan membuangnya melalui urine. Orang-orang dengan penyakit ginjal kronis pada umumnya memiliki dua pilihan utama sebagai langkah pengobatannya.

Pertama, melakukan dialisis atau cuci darah, di mana darah akan disaring oleh mesin maupun perut dengan bantuan tabung khusus, atau yang kedua adalah melakukan transplantasi atau donor ginjal yang sehat.

Untuk lebih memahami seputar donor atau transplantasi ginjal, mengapa seorang pasien harus melakukan transplantasi hingga syarat apa saja yang harus terpenuhi untuk melakukannya, simak selengkapnya di artikel ini!

Apa Itu Donor Ginjal?

apa itu donor ginjal

pexels

Donor atau transplantasi ginjal merupakan sebuah prosedur pembedahan yang dilakukan dengan menempatkan ginjal yang sehat, baik dari donor yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, ke tubuh seseorang yang membutuhkan.

Hal ini terjadi karena ketika kemampuan menyaring organ ginjal seseorang sudah tidak dapat bekerja dengan baik, tingkat cairan serta limbah berbahaya dapat menumpuk di tubuh.

Seseorang akan membutuhkan transplantasi ginjal ketika ginjalnya telah kehilangan sekitar 90 persen kemampuannya yang dapat disebabkan beberapa penyebab umum penyakit ginjal tahap akhir, seperti:

  • Diabetes

  • Glomerulonefritis kronis atau peradangan dan jaringan parut pada filter kecil di dalam ginjal

  • Penyakit ginjal polikistik

Terdapat beberapa gejala yang gagal ginjal kronis stadium akhir yang dapat timbul pada seorang pasien, antara lain:

  • Kulit terlihat pucat dan kering

  • Rasa mual dan muntah

  • Rasa sesak napas

  • Bagian lengan, leher, kaki, sampai paru-paru mengalami pembengkakan

  • Sering mengalami penurunan kesadaran

  • Rasa gatal di sekujur tubuh

  • Nafsu makan menghilang

  • Sering mengalami kram otot

Macam Transplantasi Ginjal

Dalam melaksanakan prosedur pencakokan ginjal, macamnya dapat dibagi menjadi dua, berikut penjelasannya.

1. Deceased-donor kidney transplant

Macam pertama, yaitu deceased-donor kidney transplant yang merupakan prosedur transplantasi organ ginjal dari pendonor yang baru saja meninggal dunia.

Prosedur ini baru dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan atau izin dari keluarga maupun atas dasar keinginan dari pendonor ketika masih hidup.

2. Living-donor kidney transplant

Selanjutnya, living-donor kidney transplant yang merupakan prosedur transplantasi yang dilakukan dari salah satu organ ginjal pendorong yang masih hidup. Prosedur transplantasi ini yang saat ini dapat dilakukan di Indonesia.

Syarat Medis yang Harus Dipenuhi Pendonor Ginjal

Untuk menjadi pendonor ginjal, terdapat beberapa kriteria umum yang harus dipenuhi oleh seseorang, yaitu:

  • Berusia 18 hingga 60 tahun

  • Kondisi kesehatan tubuh secara fisik dan mental yang baik

  • Golongan darah yang sama dengan penerima donor

  • Tidak memiliki penyakit ginjal, seperti batu ginjal atau gagal ginjal

  • Tidak memiliki penyakit menular, seperti HIV/AIDS atau hepatitis

  • Tidak menderita penyakit kanker, paru, jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan elektrolit, serta gangguan pembekuan darah

  • Tidak merokok

  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi alkohol

  • Memiliki berat badan ideal atau indeks massa tubuh < 30 kg/m2

  • Tidak dalam kondisi hamil

  • Belum pernah menerima transplantasi sebelumnya

  • Memiliki tekanan darah normal

  • Tidak memiliki penyakit auto imun

  • Tidak mengonsumsi obat-obatan secara rutin

  • Tidak mengalami penyakit pembuluh darah

Syarat Administratif yang Harus Dipenuhi Pendonor Ginjal

Selain syarat medis, terdapat syarat administratif yang harus dipenuhi pendonor ginjal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 38 Tahun 2016, yaitu:

  • Menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter yang memiliki Surat Izin Praktik (SIP).

  • Berusia di atas 18 tahun yang harus dibuktikan melalui dokumen identitas seperti KTP, kartu keluarga, maupun akta kelahiran.

  • Memiliki alasan yang jelas untuk menyumbangkan organ tubuh ke penerima organ secara sukarela.

  • Mendapat persetujuan dari suami atau istri, anak yang sudah dewasa, orang tua kandung, maupun saudara kandung donor.

  • Membuat pernyataan bahwa pendonor memahami indikasi, kontraindikasi, risiko, prosedur transplantasi, panduan hidup pascatransplantasi, serta pernyataan persetujuannya.

  • Membuat pernyataan tidak melakukan penjualan organ maupun perjanjian khusus lain dengan pihak penerima organ.

Persiapan Donor Ginjal

Sebelum melakukan proses transplantasi ginjal, terdapat beberapa persiapan yang harus dilakukan dan dipenuhi calon pendonor, seperti:

  • Pemeriksaan golongan darah untuk memastikan golongan darah antara pendonor dan penerima sama atau cocok.

  • Pemeriksaan crossmatch yang dilakukan dengan cara mencampurkan sampel darah pendonor dengan penerima untuk melihat reaksi kecocokan darah agar tidak ada antibodi yang dapat menyebabkan komplikasi atau kegagalan pada prosedur.

  • HLA typing yang dilakukan untuk melihat kecocokan penanda genetik tertentu antara pendonor dengan penerima.

  • Pemeriksaan darah lainnya, yang biasanya meliputi fungsi organ dan pemeriksaan serologis.

  • Pemeriksaan urine yang meliputi urinalisis, tes protein urine, mikroalbuminuria, serta perbandingan kreatinin yang digunakan untuk memastikan fungsi ginjal pendonor berfungsi dengan baik.

  • Foto rontgen dada

  • Pemeriksaan ginjal

  • EKG

  • Pemeriksaan fisik menyeluruh

Risiko Prosedur bagi Pendonor Ginjal

Terdapat beberapa risiko yang dapat dihadapi sebagai seorang pendonor ginjal, mulai dari hipertensi, gagal ginjal, dan berbagai efek samping pasca prosedur.

Berikut penjelasan lebih dalamnya berikut ini:

1. Risiko Jangka Panjang

Berikut ini beberapa risiko jangka panjang yang dapat timbul sebagai pendonor ginjal dan hidup dengan satu ginjal.

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi, hal ini dikarenakan hidup dengan satu ginjal dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi seseorang.

  • Gagal ginjal, walaupun jarang terjadi tetap adanya kemungkinan organ ginjal yang tersisa mengalami kerusakan ataupun mengalami gagal fungsi.

  • Proteinuria, di mana protein di dalam urine dapat menjadi indikasi awal terjadinya kerusakan pada organ ginjal.

  • Penyakit ginjal lainnya, di mana risiko terkena penyakit ginjal sebagai pendonor juga akan meningkat.

2. Risiko Operasi dan Pasca Operasi

  • Infeksi yang dapat terjadi baik selama operasi maupun pascaoperasi sama seperti pada berbagai prosedur lainnya.

  • Pendarahan selama maupun sesudah prosedur juga dapat terjadi dan berisiko berbahaya.

  • Gumpalan darah yang dapat berbahaya dan menyebabkan kerusakan serius pada ginjal hingga menyebabkan masalah pada tubuh atau bahkan kehilangan nyawa.

  • Komplikasi bedah yang dapat terjadi selama maupun sesudah operasi seperti pendarahan, infeksi, dan berbagai masalah terkait anestesi juga dapat membahayakan pendonor.

  • Efek samping obat yang digunakan untuk mencegah penolakan ginjal atau imunosupresan juga sering kali memiliki efek sampingnya tersendiri.

Risiko Kesehatan pada Donor Ginjal Hidup

Donor ginjal hidup masih menjadi prosedur pilihan terbaik bagi pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir yang dapat mengganti fungsi ginjal yang rusak tersebut.

Namun, sebagai donor ginjal hidup seseorang juga akan terpapar dengan berbagai risiko kesehatan serta berbagai aspek psikososial yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu biasa. Untuk lebih memahaminya, simak pembahasan berikut ini.

1. Risiko Gagal Ginjal Stadium Akhir

Sebagai pendonor ginjal hidup, salah satu risiko yang dihadapi adalah risiko gagal ginjal stadium akhir.

Menjalani nefrektomi atau prosedur bedah dengan mengangkat sebagian maupun seluruh ginjal bagi pendonor ginjal hidup dapat mengalami penurunan akut laju filtrasi glomerulus atau LFG hingga 25 sampai 40%. Walaupun begitu, fenomena tersebut dengan risiko gagal ginjal masih diperdebatkan.

Berdasarkan data dari 96.217 donor ginjal hidup serta partisipan sehat di Amerika Serikat menunjukkan bahwa insidensi kumulatif penyakit ginjal stadium akhir pada 15 tahun terakhir menunjukkan angka sebesar 30,8 per 10.000 dibandingkan dengan partisipan sehat dengan angka 3,9 per 10.000.

2. Risiko Pembedahan pada Donor Ginjal Hidup

Risiko kematian serta komplikasi setelah operasi pada donor ginjal hidup memiliki angka yang sangat rendah. Hal ini juga ditunjukkan berdasarkan penelitian yang melibatkan 80.347 donor di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa tingkat kematian dalam periode 90 hari setelah nefrektomi adalah 3,1 per 10.000.

Pada studi lain menggunakan data dari 98 rumah sakit pendidikan di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa komplikasi pasca nefrektomi pada donor ginjal hidup terjadi pada 16,8% pasien yang meliputi masalah gastrointestinal (4,4%), pendarahan (3%), masalah pernapasan (2,5%), serta komplikasi terkait pembedahan maupun anestesi (2,4%).

3. Risiko Pengaruh Usia Donor dan Resipien

Berbagai penelitian juga dilakukan guna mengurangi risiko bagi donor ginjal hidup serta meningkatkan hasil yang diharapkan setelah prosedur dilakukan.

Salah satu faktor penting yang dipertimbangkan dalam melakukan prosedur donor ginjal adalah memeriksa kecocokan usia antara donor dengan resipien. Aslam et al juga mengungkapkan bahwa kesesuaian usia antara donor dan resipien juga dapat mendukung kelangsungan hidup pasien dan organ yang dicangkokkan.

Pada penelitian retrospektif, Aslam et al mempelajari hasil transplantasi ginjal dari donor hidup berdasarkan usia donor dengan resipien. Donor dan penerima dikelompokkan ke dalam kategori usia muda dengan usia di bawah 50 tahun dan usia tua dengan usia di atas 50 tahun.

Berdasarkan 347 prosedur donasi ginjal hidup, ditemukan bahwa kelompok donor usia muda dengan penerima usia tua memiliki proporsi penerima yang merokok sebanyak 53,6% dan hepatitis C sebanyak 5,5% namun lama masa rawat lebih pendek, yaitu 5,3 hari.

Kelompok donor usia tua dengan penerima usia muda memiliki lama masa rawat terpanjang, yaitu 7,4 hari, namun masa iskemik dingin lebih pendek, yaitu 2,3 jam.

Tidak ada perbedaan signifikan terkait penundaan fungsi cangkok antarkelompok. Perbedaan tingkat komplikasi yang signifikan terlihat pada kejadian perdarahan dalam 30 hari yang paling tinggi ditemukan pada kelompok donor usia tua dengan penerima usia tua, yaitu 7,7%.

4. Risiko Preeklampsia pada Wanita Donor Ginjal

Risiko preeklampsia dan hipertensi selama kehamilan pada wanita yang menjadi donor ginjal hidup adalah faktor penting yang perlu dipertimbangkan.

Studi kohort retrospektif di tahun 2015 yang melibatkan 85 wanita donor ginjal serta 510 wanita non-donor ginjal menemukan bahwa risiko preeklampsia dan hipertensi selama kehamilan meningkat 2,4 kali lipat pada wanita donor ginjal.

Pada studi kohor yang dilakukan pada tahun 2019 dan melibatkan 59 wanita donor ginjal juga ditemukan bahwa adanya kecenderungan peningkatan risiko preeklampsia atau eklampsia pada donor ginjal, walaupun tidak signifikan secara statistik.

Namun, pada donor ginjal yang berusia kurang atau sama dengan 30 tahun, risiko preeklampsia atau eklampsia dilaporkan meningkat 4 kali lipat.

Sebaliknya, studi kohor retrospektif lain pada tahun 2018 yang melibatkan 225 donor dengan 426 kehamilan menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan terkait hipertensi, preeklampsia, maupun luaran komposit.

5. Luaran Psikososial Pasca Donasi Ginjal

Perubahan kualitas hidup dan risiko finansial merupakan dua aspek penting yang perlu dipertimbangkan oleh donor ginjal hidup. Rodrigue et al juga mengungkapkan dalam sebuah studi bahwa donor ginjal hidup melaporkan perubahan minimal terkait mood, citra diri, kekhawatiran tentang gagal ginjal, kepuasan hidup, serta stabilitas keputusan hingga dua tahun setelah berdonasi.

Di mana, hasil tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol sehat non-donor.

Secara khusus, jumlah kasus secara khusus juga relatif cukup rendah dengan angka gangguan mood 16%, kekhawatiran gagal ginjal 21%, citra diri 13%, hingga ketidakpuasan hidup 10%.

Meskipun donasi ginjal hidup sering dianggap sebagai prosedur yang tidak memerlukan biaya khusus, donor tetap dapat mengalami risiko finansial. Biaya yang dikeluarkan oleh calon donor ginjal hidup dapat mencakup biaya langsung dan tidak langsung dari proses donasi, seperti biaya perjalanan, obat-obatan, kehilangan waktu kerja, dan biaya untuk tanggungan.

Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 92% donor ginjal hidup mengeluarkan biaya langsung sebesar US$ 433, dan hampir sepertiga donor mengalami kehilangan pendapatan pada tahun pertama setelah donasi sebesar US$ 2712.

Penelitian serupa di Kanada melaporkan bahwa 98% donor ginjal hidup mengeluarkan biaya rata-rata sebesar US$ 1254, dan sebanyak 20% donor mengalami kehilangan pendapatan hingga US$ 5534.

Selain itu, aspek psikososial juga memainkan peran penting dalam kesejahteraan donor ginjal hidup. Donor mungkin mengalami perubahan dalam hubungan sosial dan dukungan emosional setelah donasi.

Beberapa donor melaporkan peningkatan rasa kepuasan dan makna hidup karena telah membantu orang lain, sementara yang lain mungkin merasa cemas atau khawatir tentang kesehatan mereka di masa depan.

Penting bagi calon donor untuk mendapatkan konseling dan dukungan yang memadai sebelum dan setelah prosedur untuk memastikan bahwa mereka siap secara emosional dan psikologis.

Di sisi lain, risiko finansial yang dihadapi oleh donor ginjal hidup tidak hanya terbatas pada biaya langsung dan kehilangan pendapatan.

Donor juga mungkin menghadapi biaya tambahan yang tidak terduga, seperti biaya medis yang tidak ditanggung oleh asuransi, biaya perawatan jangka panjang, dan biaya untuk mengatasi komplikasi yang mungkin timbul setelah donasi.

Oleh karena itu, penting bagi calon donor untuk mempertimbangkan semua aspek finansial sebelum memutuskan untuk mendonorkan ginjal mereka.

Secara keseluruhan, meskipun donasi ginjal hidup dapat memberikan manfaat besar bagi penerima, calon donor harus mempertimbangkan dengan cermat semua risiko dan dampak yang mungkin terjadi, baik dari segi kesehatan fisik, psikososial, maupun finansial.

Dukungan yang memadai dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan sangat penting untuk membantu donor menghadapi tantangan yang mungkin timbul setelah donasi.

Nah, itulah penjelasan seputar donor ginjal yang harus kamu ketahui, mulai dari apa yang dimaksud dengan transplantasi, syarat, hingga berbagai risiko yang dapat timbul dari prosedur tersebut.

Penting untuk melakukan konsultasi ke dokter terlebih dahulu ketika ingin berobat maupun melakukan prosedur apapun. Asuransi kesehatan hadir sebagai langkah preventif yang dapat kamu gunakan untuk membantu melindungi finansial dan memastikan akses ke perawatan kesehatan yang dibutuhkan.

Kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi kesehatan juga dapat dilihat melalui data dari AAJI atau Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia di mana sepanjang tahun 2024, klaim asuransi naik 16,4% secara tahunan menjadi Rp 24,18 triliun.

Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa asuransi kesehatan sebagai langkah preventif baik sebagai perlindungan finansial maupun kesehatan juga sangatlah krusial untuk dipahami.

MyProtection hadir memberikan perlindungan kesehatan terbaik bagi kamu dan anggota keluarga dengan manfaat tambahan Saldo Prima melalui Perlindungan Kesehatan Prima.

Berikut ini beberapa keunggulan produk Perlindungan Kesehatan Prima yang harus kamu ketahui:

  • Manfaat tambahan Saldo Prima ya memberikan penggantian atas pembelian vitamin maupun obat-obatan tanpa perlu melakukan perawatan Rawat Inap maupun Rawat Jalan.

  • Santunan tunai harian Rawat Inap di Rumah Sakit untuk penjamin pertama oleh BPJS Kesehatan

  • Pilihan manfaat Rawat Inap dan Rawat Jalan sesuai kebutuhan

  • Pembayaran klaim secara cashless di lebih dari 1.000 Rumah Sakit di Indonesia

  • 24 jam Contact Center dan Case Monitoring

  • Layanan eksklusif Personal Medical Assistance

  • Laporan perhitungan klaim via email

*PT Lippo General Insurance Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

Apakah artikel ini membantu?
Subscribe Newsletter Kita
Klik subscribe untuk berlanggan newsletter artikel kami
Bagikan MyPro ke
facebook
twitter
instagram
Tentang MyProtection News Jakarta
MyProtection adalah salah satu pioneer portal pembelian asuransi kesehatan maupun asuransi umum secara online yang dapat diakses melalui platform website dan aplikasi sejak 2017.
Rekomendasi Artikel
Semua Kategori
5 mins read • 30/09/2020
Promo 10.10 Diskon Asuransi Kesehatan Prima

Hi, Sahabat MyProtection!

Proteksi menyeluruh untuk diri dan keluarga itu wajib hukumnya, khususnya dalam hal kesehatan. MyProtection mengerti kebutuhan Anda untuk merasa aman dan nyaman bahkan di tengah pandemi COVID-19.

Perlindungan Kesehatan Prima menawarkan perlindungan kesehatan menyeluruh untuk Anda dan keluarga. Anda juga dapat memilih manfaat asuransi kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Baik rawat inap ataupun rawat inap sekaligus rawat jalan. Asuransi kesehatan online satu ini memudahkan Anda mempelajari produk asuransi secara komprehensif sekaligus simulasi premi yang jujur.

Kabar baiknya, Perlindungan Kesehatan Prima diskon 10% selama Oktober 2020!*

Premi mulai dari Rp 2.510.000/tahun, BELUM termasuk diskon dan dapatkan manfaat rawat inap & bedah Rp 100 juta/tahun + bonus Saldo Prima untuk beli obat/vitamin tanpa resep dokter. Pembayarannya pun mudah! tersedia cicilan hingga 12 bulan dengan ataupun tanpa kartu kredit.

Selain manfaat yang bisa Anda custom dan premi terjangkau, Perlindungan Kesehatan Prima punya segudang fitur lainnya. Berasuransi kini hanya butuh 1 klik jari!

  • Klaim cashless tanpa kartu
  • Telemedicine
  • Online doctor consultation
  • Cek status klaim langsung dari HP Anda
  • Fitur live chat
  • Manfaat tambahan SALDO PRIMA untuk beli vitamin/obat tanpa resep Dokter & diganti asuransi (khusus Perlindungan Kesehatan Prima)
  • Menjamin COVID-19

Jangan sampai kelewatan MyPromo 10.10. Info selengkapnya silakan klik tombol di bawah ini!

*Syarat dan Ketentuan:

  • Periode promo adalah 1 Oktober – 31 Oktober 2020
  • Promo khusus untuk produk Perlindungan Kesehatan PRIMA
  • Diskon yang diberikan sebesar 10% dengan kode OKTOBERPRIMA
  • Diskon hanya bisa digunakan 1x per pengguna dan tidak bisa digabung dengan promo lainnya
Baca Artikel
Semua Kategori
5 mins read • 21/01/2025
Kecelakaan Kerja dan Berbagai Faktor yang Dapat Menyebabkannya!

Kecelakaan kerja merupakan suatu hal yang dapat dialami oleh setiap orang di mana pun mereka berada selama berada di ruang lingkup kerja. Dari pekerjaan yang memiliki risiko tinggi, hingga pekerja kantoran.

Semua pekerjaan sendiri memiliki risikonya masing-masing yang harus diperhatikan. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dari kecelakaan kerja sendiri dan apa saja faktor yang menyebabkannya? Simak selengkapnya di sini!

Kecelakaan Kerja dan Berbagai Faktor yang Dapat Menyebabkannya!

Kecelakaan Kerja dan Faktor Apa Saja yang Menyebabkannya

pexels

Kecelakaan kerja sendiri dapat diartikan sebagai segala kejadian atau insiden yang terjadi di tempat kerja maupun ruang yang berhubungan dengan pekerjaan.

Di mana, segala kejadian atau insiden yang terjadi sendiri dapat mengakibatkan PAK atau penyakit akibat kerja, cedera, atau bahkan sampai meninggal dunia.

Selain itu, menurut Peraturan Menteri Ketenagakerjaan atau Permenaker No. 5 Tahun 2021, menyatakan bahwa kecelakaan kerja merupakan segala kecelakaan yang terjadi di dalam hubungan kerja.

Hal ini termasuk kecelakaan yang terjadi di dalam perjalanan dari rumah ke tempat kerja maupun sebaliknya hingga penyakit yang ditimbulkan akibat lingkungan kerja.

Terdapat pula UU No. 1 Tahun 1970 yang menyatakan bahwa kecelakaan kerja merupakan sebuah kejadian yang tidak terduga dan tidak dikehendaki. Kejadian tersebut dapat mengacaukan proses serta menimbulkan kerugian baik harta benda maupun korban manusia.

OHSAS atau Occupational Health and Safety Assessment Series, yang merupakan standar internasional pada penerapan sistem manajemen K3 atau keselamatan dan kesehatan kerja, juga mendefinisikan kecelakaan kerja sebagai sebuah kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat menyebabkan kesakitan, cedera, atau hingga kematian.

Jenis Kecelakaan Kerja

jenis kecelakaan kerja

pexels

Kecelakaan kerja yang sering terjadi juga dapat dibagi menjadi beberapa jenis, sebagai berikut.

1. Tertimpa objek

Pertama, kecelakaan yang disebabkan tertimpa objek. Pada umumnya, kecelakaan jenis ini terjadi di pabrik maupun di proyek lapangan yang dikelilingi banyak material.

Kecelakaan ini terjadi karena disebabkan sebuah objek yang sering kali tanpa sengaja jatuh karena adanya human eror maupun masalah pada objek hal tersebut.

2. Terjatuh dan terpeleset

Selanjutnya, terjatuh dan terpeleset yang dapat terjadi di area kerja dengan area licin dan tidak rata.

Walaupun di anggap sepele dan ringan, insiden ini dapat berdampak serius jika jatuh dari ketinggian yang tinggi ataupun risiko-risiko lainnya yang dapat menyebabkan dampak yang lebih parah.

3. Terkena benda tajam

Terkena benda tajam sendiri bukanlah sesuatu hal yang tak mungkin. Insiden ini dapat terjadi khususnya di sektor pekerjaan yang banyak menggunakan mesin dan benda tajam.

Oleh sebab itu, jika kamu bekerja di sektor pekerjaan ini akan sangat penting untuk berhati-hati saat bekerja dan terus memperhatikan sekita r.

Selain itu, memiliki perlindungan yang tepat juga bisa menjadi salah satu solusi efisien.

4. Kecelakaan lalu lintas

Keadaan lalu lintas tidak selalu aman. Di mana, sering kali terjadi hal-hal atau insiden yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah kemungkinan kecelakaan lalu lintas yang dapat terjadi kapan saja.

Jenis kecelakaan kerja ini terjadi ketika kamu sedang berada di perjalanan baik berangkat maupun pulang dari tempat kerja.

Klasifikasi serta Contoh Kecelakaan Kerja

Klasifikasi serta Contoh Kecelakaan Kerja

Menurut ILO atau International Labour Organization yang dapat disebut juga sebagai Organisasi Perburuhan Internasional, insiden dalam pekerjaan dapat dibedakan menjadi beberapa klasifikasi sebagai berikut.

1. Berdasarkan jenis pekerjaan

Yang pertama, klasifikasi berdasarkan jenis pekerjaannya terdiri dari, sebagai berikut

  • Terjatuh

  • Tertimpa benda jatuh

  • Tertumbuk maupun terkena benda atau peralatan kerja

  • Terjepit benda maupun peralatan kerja

  • Aktivitas atau gerakan yang melebihi kemampuan dan terlalu menekan fisik yang dapat menimbulkan cedera

  • Terpapar suhu ekstrem

  • Tersengat arus Listrik

  • Mengalami kontak dengan bahan berbahaya

  • Terkena efek radiasi

2. Berdasarkan penyebab

Yang kedua, klasifikasi berdasarkan penyebabnya terdiri dari, sebagai berikut

  • Kecelakaan disebabkan mesin atau alat kerja

  • Kecelakaan disebabkan kendaraan maupun alat pengangkut

  • Kecelakaan disebabkan kondisi lingkungan kerja yang kurang ideal

  • Kecelakaan disebabkan bahan serta zat berbahaya

  • Kecelakaan disebabkan instalasi listrik

3. Berdasarkan kelainan maupun sifat luka

Yang ketiga, klasifikasi berdasarkan kelainan maupun sifat luka terdiri dari, sebagai berikut

  • Patah tulang

  • Dislokasi atau keseleo

  • Regang otot

  • Memar

  • Amputasi

  • Luka luar atau luka di permukaan

  • Luka bakar

  • Keracunan

  • Mati lemas

  • Bekas sengatan arus Listrik

  • Bekas paparan radiasi

4. Berdasarkan letak kelainan maupun luka di tubuh

Yang terakhir, klasifikasi berdasarkan letak kelainan maupun luka di tubuh terdiri dari, sebagai berikut

  • Bagian kepala

  • Bagian leher

  • Bagian badan atau tubuh

  • Anggota tubuh bagian atas

  • Anggota tubuh bagian bawah

  • Kelainan atau luka di banyak area sekaligus

Penyebab Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja sendiri dapat terjadi kapan saja, namun terdapat beberapa hal yang dapat memicu kecelakaan tersebut terjadi. Simak di sini!

1. Mengabaikan prosedur keselamatan

Penyebab pertama yang sering menyebabkan kecelakaan adalah mengabaikan proses keselamatan. Terutama pada pekerjaan dengan risiko yang tinggi, prosedur keselamatan yang ada harus dan wajib ditaati selama proses bekerja.

Seperti halnya, ketika kamu bekerja di ketinggian, penggunaan APD atau Alat Pelindung Diri menjadi krusial. Di mana jika kamu tidak menaati aturan yang ada, kamu dapat membahayakan diri maupun rekan kerja-Mu!

2. Kurang pelatihan dan edukasi

Hal kedua yang sering kali menyebabkan kecelakaan adalah kurangnya pelatihan dan edukasi sebelum melakukan pekerjaan yang akan dilakukan.

Contohnya, ketika seorang pekerja diberikan tugas untuk menggunakan mesin maupun benda tajam di tempat kerja namun pelatihan dan edukasi yang diberikan kurang.

Hal tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan kerja karena masih belum memahami cara kerja alat tersebut. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengikuti pelatihan yang dianjurkan terlebih dahulu.

3. Kondisi fisik yang kurang optimal

Kecelakaan juga dapat terjadi jika kondisi fisik kurang optimal dan tetap memaksakan melakukan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan memiliki risiko yang tinggi.

Seperti contohnya, jika kamu sedang tidak enak badan akibat kurang tidur dan kelelahan yang dapat menyebabkan konsentrasi juga melemah. Hal-hal kecil seperti itulah yang dapat menyebabkan risiko kecelakaan dalam bekerja meningkat.

4. Peralatan yang kurang aman dan memadai

Dalam semua pekerjaan, khususnya pekerjaan dengan risiko tinggi pada umumnya memiliki standar keselamatan untuk peralatannya yang harus dipatuhi.

Seperti contohnya, peralatan dalam kondisi prima, perawatan pada jangka waktu tertentu, dan masih banyak lagi.

Jika aturan tersebut tidak dijalankan sesuai dengan standar yang ada, maka semakin besar pula risiko terjadi kecelakaan dalam bekerja.

Faktor Penyebab Kecelakaan selama Bekerja

Berdasarkan faktornya sendiri, penyebab kecelakaan juga dapat dibagi menjadi 3, baik secara internal maupun eksternal. Berikut ini 3 faktor penyebab kecelakaan kerja yang dapat terjadi.

1. Faktor Manusia

Faktor manusia sendiri merupakan segala sikap, perilaku, hingga keterampilan seorang pekerja dalam melakukan pekerjaannya.

Sikap seorang pekerja yang kurang peduli, bermalas-malasan, atau bahkan terlalu percaya diri dapat mempengaruhi kinerjanya selama bekerja dan meningkatkan risiko kecelakaan.

Selain itu perilaku seseorang, seperti tidak berkonsentrasi, mengabaikan keamanan, maupun mengonsumsi obat-obatan terlarang juga dapat menyebabkan kecelakaan selama bekerja.

Dan yang terakhir, ketika keterampilan yang dimiliki tidak mencukupi untuk mengoperasikan sebuah pekerjaan sering kali dapat membahayakan diri sendiri dan juga orang lain di sekitarnya.

2. Faktor Kondisi Peralatan

Faktor selanjutnya adalah kondisi peralatan yang memiliki kaitannya dengan peralatan yang digunakan selama bekerja, baik kualitas, kelayakan, hingga pemeliharaannya.

Penggunaan alat yang tidak lagi prima atau dalam keadaan rusak, tidak berfungsi dengan baik, tidak memenuhi standar, maupun tidak dirawat dengan baik dapat menyebabkan kecelakaan.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk selalu memastikan kondisi mesin atau alat yang digunakan saat bekerja dalam kondisi yang layak sehingga risiko kecelakaan menurun.

Hal-hal seperti kabel yang mengelupas, komponen lepas, tangga yang patah, hingga APD yang tidak sesuai dapat mempengaruhi itu semua.

3. Faktor Lingkungan

Ada juga faktor lingkungan yang dapat menjadi penyebab kecelakaan selama bekerja. Faktor ini meliputi segala kondisi fisik, kimia, biologis, hingga psikologis yang ada di lingkungan tempat kerja.

Dengan kondisi lingkungan kerja yang kurang memadai atau tidak mendukung untuk melakukan pekerjaan, sering kali kecelakaan dapat terjadi.

Seperti contohnya, suhu yang terlalu panas maupun dingin, kebisingan yang terlalu berlebihan, kurangnya cahaya, polusi udara sekitar, hingga tingkat kelembaban tinggi.

Bukan hanya itu, faktor lingkungan yang kurang memadai juga dapat mempengaruhi kondisi dan kesehatan mental seseorang , seperti terjadinya konflik, tekanan, hingga stres dari pekerjaan tersebut.

Adanya hal-hal tersebut pada akhirnya bukan hanya dapat mengurangi motivasi dan kinerja dari seseorang, namun juga dapat menjadi penyebab terjadinya kecelakaan di tempat kerja.

Faktor Penyebab Kecelakaan di Tempat Kerja Berdasarkan Teori

Banyaknya faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan di tempat kerja mulai dari penggunaan alat dan material, faktor alam, atau bahkan kelalaian dan kurangnya kompetensi dari pekerja.

Oleh sebab itu, faktor penyebab kecelakaan di tempat kerja juga dapat dibagi berdasarkan teori di bidang ilmu K3, sebagai berikut.

1. Teori Domino

Teori domino yang dikemukakan oleh Heinrich mengatakan bahwa sebuah kecelakaan kerja dapat terjadi karena adanya 5 faktor utama yang berhubungan antara satu sama lain.

Mulai dari kondisi kerja, kelalaian manusia, tindakan kerja yang membahayakan, kecelakaan atau insiden, serta cedera.

Berdasarkan teori domino, jika ada salah satu faktor tersebut terjadi di tempat kerja, maka faktor lainnya juga akan terdampak dan munculnya efek domino antara faktor-faktor tersebut.

Hal yang dimaksud dari ini adalah, ketika kondisi kerja yang ada tidak memadai, maka akan muncul pula kelalaian pekerjanya, dan pada akhirnya tempat kerja menjadi tidak akan yang dapat mengakibatkan cedera atau bahkan kecelakaan.

Berikut penjelasan lebih lanjut terkait kelima elemen tersebut yang saling berhubungan dan membentuk rantai kecelakaan, sebagai berikut.

  1. Kondisi kerja atau social environment and ancestry, yang mengacu pada kondisi fisik serta psikologis lingkungan kerja yang dapat membahayakan kesehatan maupun keselamatan pekerja.

  1. Kelalaian manusia atau fault of the person or carelessness, yang merupakan kesalahan pekerja dalam menjalan pekerjaannya. Kelalaian ini sendiri pada umumnya bersifat internal, seperti kurangnya pengetahuan atau pengalaman, tekanan kerja yang berat, dll.

  1. Tindakan tidak aman atau unsafe act or unsafe condition, yang mengacu terhadap perilaku pekerja yang tidak sesuai prosedur yang seharusnya. Seperti penggunaan alat yang kurang tepat, mengabaikan peraturan keselamatan kerja, dsb.

  1. Kecelakaan atau accident, yang mengacu pada peristiwa atau kejadian tidak terduga maupun diinginkan. Peristiwa ini sendiri dapat terjadi akibat berbagai hal, mulai dari lingkungan kerja, kelalaian pekerja, atau bahkan tidak mengikuti protokol keamanan.

  1. Cedera atau injury, yang mengacu pada kerusakan atau cedera fisik pada tubuh seseorang akibat terjadinya kecelakaan di lingkungan kerja.

2. Teori Multiple Factor

Teori Multiple Factor mengungkapkan bahwa penyebab kecelakaan di tempat kerja dapat didefinisikan menjadi 4M yang terdiri atas

  • Pertama, Man atau manusia

  • Kedua, Machine atau mesin dan peralatan

  • Ketiga, Media atau lingkungan kerja

  • Keempat, Management atau manajemen kerja.

Faktor pertama, yaitu manusia meliputi usia, gender, keterbatasan kemampuan, kekuatan, motivasi, kondisi emosi, dan sebagainya.

Faktor kedua yang seperti Namanya berkaitan dengan mesin dan peralatan yang digunakan selama proses kerja. Faktor ketiga, lingkungan kerja termasuk suhu hingga kebisingan di lingkungan kerja yang dapat mengganggu proses kerja.

Sedangkan, faktor terakhir yaitu manajemen meliputi komunikasi, kebijakan, dan sebagainya yang berkaitan dengan proses kerja.

Dampak Kecelakaan di Tempat Kerja

Kecelakaan di lingkungan kerja sendiri dapat menimbulkan berbagai dampak, bukan hanya dapat dilihat melalui luka fisik, namun juga secara psikis, atau bahkan hingga kematian.

Dibagi berdasarkan tingkat keparahannya, berikut ini dampak kecelakaan di tempat kerja, sebagai berikut.

  • Cedera fatal atau fatality yang dapat menyebabkan pekerja yang bersangkutan kehilangan nyawa

  • Cedera yang dapat menghilangkan waktu kerja produktif atau loss time injury

  • Cedera yang dapat menyebabkan karyawan tidak bisa masuk kerja atau loss time day

  • Cedera yang dapat membatasi kemampuan kerja atau restricted duty

  • Cedera yang membutuhkan perawatan medis atau medical treatment injury

  • Cedera ringan, yang pada umumnya lecet, mata kemasukan debu, dan sebagainya atau first aid injury

  • Tidak menimbulkan cedera atau non injury accident

Tips Menghindari Kecelakaan Ketika Bekerja

Dalam menghindari risiko insiden-insiden yang tidak diinginkan, berikut ini beberapa tips yang dapat kamu lakukan untuk menghindari kecelakaan saat kerja.

  • Menggunakan APD atau Alat Pelindung Diri yang lengkap atau sesuai dengan standar dan regulasi yang telah ditetapkan. Dengan mengikuti aturan yang ada, maka kecelakaan yang tidak diinginkan juga dapat dihindari.

  • Mengikuti pelatihan maupun kelas yang dibutuhkan selama bekerja. Dengan begitu, kamu akan memiliki informasi yang cukup untuk bekerja dengan baik dan aman.

  • Menaati aturan yang ada, seperti menggunakan APD serta mengecek keadaan peralatan yang digunakan agar kondisinya tetap prima dan memenuhi standar yang ada.

  • Secara rutin melakukan pengecekan atau monitoring untuk memastikan segala hal yang berkaitan dengan regulasi serta standarisasi tetap dijalankan sesuai prosedur di tempat kerja.

Nah, itulah sekilas penjelasan terkait kecelakaan kerja dan hal yang dapat kamu lakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi saat bekerja.

Tentu saja tidak ada orang yang ingin terkena musibah tersebut, namun untuk memastikan kamu sudah terlindungi dan memiliki perlindungan yang terpercaya, Perlindungan Kesehatan Prima hadir untuk menjawab segala kekhawatiran-Mu!

Semoga penjelasan di atas dapat bermanfaat dan membuatmu lebih waspada akan hal-hal yang mungkin saja terjadi di tempat kerja. Semoga bermanfaat dan semangat bekerja!

*PT Lippo General Insurance Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

Baca Artikel
Semua Kategori
5 mins read • 04/03/2022
Berbenah Keuangan Pribadi dengan Tips Ini!

Hi, Sahabat MyProtection!

Mengelola keuangan memang bukanlah hal sepele. Salah-salah, arus keuanganmu malah bisa terhambat jika pengeluaran tidak dikontrol, terlebih jika pengeluaran lebih besar dari pendapatan. MyProtection punya tips mudah untuk mulai merapikan strategi keuangan pribadimu.

Tentukan Limit Pengeluaran Tiap Bulan

Mengeluarkan uang tanpa perencanaan yang baik bisa jadi berbahaya, lho! Karena bisa saja kamu melakukan pembelanjaan berlebihan atau malah mengeluarkan uang untuk hal yang kurang penting. Oleh karena itu, setiap awal bulan atau setiap kamu menerima pendapatan, disarankan untuk membuat skala prioritas pengeluaran serta besarannya. Misalnya, gaji Rp 6 juta yang kamu terima tiap bulan diatur sedemikian rupa sehingga 60% dialokasikan untuk pengeluaran pokok, 20% untuk hiburan, dan 20% untuk tabungan. Menentukan limit pengeluaran juga mencegah kamu melakukan overspending atau memnghabiskan uang lebih dari batasan seharusnya.

Dana Darurat, Tabungan, dan Asuransi Jadi Prioritas

Selain menentukan jumlah pengeluaranmu tiap bulan, pastikan kamu menyisihkan uang untuk tabungan, dana darurat, dan asuransi. Jika kamu masih lajang, sebaiknya kamu menyiapkan dana sebesar 3 bulan biaya hidup. Sedangkan jika kamu sudah berkeluarga, maka siapkan dana sebesar 6 bulan biaya hidup. Tujuan menyiapkan dana darurat adalah memastikan kamu memiliki cadangan uang jika terjadi hal tidak terduga di masa depan, seperti terpaksa berhenti kerja, membutuhkan biaya berobat, atau keperluan mendesak & esensial seperti biaya pendidikan anak. Kamu juga bisa memilih asuransi untuk mengalihkan risiko kerugian finansial karena sakit. contohnya, Perlindungan Kesehatan Prima menawarkan premi asuransi kesehatan terjangkau mulai dari Rp 3 ribuan/hari/orang dan kamu bisa mendapatkan manfaat rawat inap & jalan hingga Rp 200 juta/tahun!

Mulai Belajar Investasi

Setelah dana darurat terkumpul, langkah selanjutnya adalah belajar investasi! Salah satu strategi untuk menambahkan nilai asset atau uang yang kamu miliki adalah dengan berinvestasi seperti saham, reksa dana, bahkan properti. Kuncinya adalah memilih strategi investasi yang aman, legal, dan dapat kamu pahami. Jangan sampai kamu invetasi karena ikut-ikutan artis di media sosial, ya! Pastikan kamu mengerti dengan baik instrumen invetasi yang kamu pilih. Jangan mudah tergiur dengan investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat. Apalagi berita mengenai investasi bodong sedang marak akhir-akhir ini.

Kurangi Kesenangan Sesaat untuk Mendapatkan “Reward” Lebih Besar

Sahabat MyProtection pernah dengar istilah self-reward? Self-reward adalah kegiatan mengapresiasi diri sendiri setelah bekerja keras dengan cara membeli barang baru, liburan, dan lainnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita menghabiskan banyak uang dan waktu untuk mendapatkan kesenangan sementara. restoran mewah. Bahkan, terkadang kita bisa menunda kesenangan sesaat untuk mendapatkan reward yang lebih besar. Contohnya, menunda liburan ke Bali untuk mengumpulkan DP membeli rumah.

Salam,
Sahabat MyProtection

Baca Artikel