Beranda
/
Artikel
/
Semua Kategori
/
Awal Prima Bersama Perlindungan Kesehatan Prima

Awal Prima Bersama Perlindungan Kesehatan Prima

30 September 2019 | MyProtection News Jakarta

Hi, Sahabat MyProtection!

Selamat memasuki dekade yang baru dan perjalanan yang baru!

Namun, seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Sebelum memasuki perjalanan yang baru, ada baiknya kita memperlengkapi diri dengan "payung" berupa proteksi kesehatan. Perlindungan Kesehatan Prima menawarkan berbagai manfaat untuk Anda dan keluarga mulai dari rawat jalan, rawat inap & bedah. Premi dimulai dari Rp 2,5juta/tahun kini Rp 2,2 juta/tahun untuk perlindungan rawat inap & bedah hingga Rp 100 juta. Proses klaimnya juga praktis karena menggunakan sistem cardless & cashless di >900 Rumah Sakit* di Indonesia. Selain itu, PKP juga menawarkan fitur tambahan Saldo Prima sebesar Rp 250 ribu untuk membeli obat/vitamin tanpa berobat. Untuk mengawali perjalanan Anda di 2020, dapatkan diskon 10% dengan memasukan kode AWALPRIMA untuk pembelian produk Perlindungan Kesehatan Prima

Apakah Anda sudah siap mengawali perjalanan baru dengan Prima?

Klik untuk Pelajari Lebih Lanjut atau Beli Sekarang

Syarat & Ketentuan Promo:

  • Kode promo: AWALPRIMA
  • Diskon 10% akan diberikan secara otomatis setelah kode "AWALPRIMA" dimasukkan
  • Diskon berlaku mulai dari 1 Januari 2020 - 31 Januari 2020
  • Diskon khusus untuk produk asuransi Perlindungan Kesehatan Prima
  • Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi 08041338888 dan email: cs@myprotection.id

Apakah artikel ini membantu?
Subscribe Newsletter Kita
Klik subscribe untuk berlanggan newsletter artikel kami
Bagikan MyPro ke
facebook
twitter
instagram
Tentang MyProtection News Jakarta
MyProtection adalah salah satu pioneer portal pembelian asuransi kesehatan maupun asuransi umum secara online yang dapat diakses melalui platform website dan aplikasi sejak 2017.
Rekomendasi Artikel
Otomotif
5 mins read 04/02/2026
15 Komponen AC Mobil dan Kegunaannya Masing-Masing!

AC mobil yang bekerja dengan baik dapat memberikan kenyamanan pengemudi ketika berkendara, membuat udara lebih dingin dan sirkulasi udara lebih lancar. Untuk menjalankan fungsinya, terdapat berbagai komponen AC mobil yang saling bekerja dan mendukung satu sama lain.

komponen ac mobil

pexels

15 Komponen AC Mobil dan Kegunaannya Masing-Masing!

Agar mampu menjalankan tugasnya dengan baik, terdapat berbagai komponen AC mobil yang bekerja antara satu sama lain untuk hasil yang optimal.

Namun, tahukah kamu fungsi dari masing-masing komponen AC mobil dan apa saja komponen penyusun di dalamnya? Simak ulasan berikut ini!

1. Kompresor AC

Komponen pertama dalam AC mobil adalah kompresor yang memiliki fungsi untuk memompa aliran gas freon sehingga mampu bersirkulasi ke komponen AC mobil yang lain.

Bukan hanya itu, kompresor untuk akan mengompres atau menekan pendingin dan mengubahnya dari gas menjadi cair.

Kompresor AC juga dibagi menjadi dua bagian yang keduanya bekerja memompa udara menuju kondensor. Pertama, saluran hisap dengan tekanan lebih rendah, yang menghubungkan udara ke evaporator.

Sedangkan saluran buang dengan tekanan lebih tinggi menghubungkan udara ke bagian kondensor.

2. Kondensor

Kondensor yang menjadi komponen berikutnya merupakan sebuah perangkat yang membantu dalam mengatur temperatur AC dalam mobil.

Cara kerja komponen ini adalah dengan melepas hawa panas dari freon yang kemudian dibantu oleh cooling fan untuk mendinginkan.

3. Freon

Komponen selanjutnya yang mungkin sudah tidak asing bagi banyak orang adalah freon yang merupakan senyawa kimia atau refrigeran dengan fungsi menyerap panas dari udara dalam kabin mobil ke luar.

Karena fungsinya tersebut, jika udara yang dikeluarkan dari AC mobil tidak dingin lagi, salah satu penyebabnya bisa dikarenakan freon yang habis.

4. Receiver Dryer

Receiver dryer merupakan komponen yang berfungsi untuk menyaring kotoran maupun debu yang masuk ke dalam sistem AC terletak di antara kondensor dan katup ekspansi.

Adanya receiver dryer dapat membantu melindungi komponen AC mobil dari air dan kotoran yang masuk, seperti tersumbatnya katup ekspansi hingga korosi pada kompresor yang dapat menurunkan kinerja AC mobil secara keseluruhan.

5. Expansion Valve

Expansion valve atau katup ekspansi memiliki fungsi untuk mengubah cairan freon ke dalam bentuk gas melalui proses spraying.

Adanya proses tersebut membuat suhu freon lebih dingin sebelum nantinya mengalirkan ke evaporator guna menyerap panas dan menghasilkan udara dingin di kabin mobil.

6. Evaporator

Evaporator yang memiliki fungsi vital dalam sistem pendinginan AC mobil bertugas untuk menyerap panas yang ada pada kabin mobil dan mengubahnya menjadi udara dingin.

Disebut sebagai filter AC, freon yang diterima oleh evaporator akan didinginkan terlebih dahulu sebelum akhirnya masuk ke kabin mobil yang menghasilkan udara dingin.

7. Cooling Fan

Cooling fan yang memiliki fungsi untuk membantu mendinginkan kondensor AC, bekerja dengan meniupkan udara, cooling fan dapat membantu menurunkan suhu freon yang membuat proses pendingin AC mobil menjadi lebih efisien.

Hal ini menjadi krusial karena tanpa adanya cooling fan, maka suhu freon menjadi kurang dingin dan udara yang dihasilkan kurang efektif, serta tanpa adanya cooling fan AC mobil juga dapat mengalami penurunan kinerja.

8. Magnetic Clutch

Magnetic clutch pada AC mobil adalah komponen elektrikal yang berfungsi menghentikan tekanan freon saat terlalu tinggi.

Walaupun pulley mesin terus berputar, magnetic clutch mengatur kapan kompresor menyala dan berhenti. Saat kompresor aktif, tekanan freon akan naik semakin tinggi, terutama ketika mesin digas. Jika dipaksa terus, komponen bisa rusak.

Di sinilah magnetic clutch berperan dengan menggunakan gaya magnet untuk memutus atau menyambung putaran pulley dengan poros kompresor agar sistem tetap aman.

Selain komponen AC mobil di atas, terdapat berbagai komponen penyusun lainnya di dalam sistem AC mobil, seperti termistor, high pressure hose, low pressure hose, blower, pressure switch, relay, hingga filter kabin.

*PT Lippo General Insurance Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

Baca Artikel
Semua Kategori
5 mins read 09/04/2025
Piramida Kecelakaan Kerja: Pengertian hingga Langkah Pencegahannya

Piramida kecelakaan kerja merupakan sebuah teori yang dibuat pada tahun 1931 oleh Herbert William Heinrich yang mengemukakan bahwa jika di sebuah tempat kerja terjadi 1 kecelakaan kerja yang sifatnya fatality, maka sebanding dengan 30 kecelakaan kerja yang sifatnya mayor, 300 cedera ringan, 3.000 near-misses, dan 30.000 bersifat unsafe acts.

Jika dilihat secara sederhana hal tersebut dapat diartikan bahwa dalam sebuah tempat kerja yang terjadi 1 kecelakaan fatality, maka di tempat tersebut juga terdapat 30.000 perilaku serta kondisi tidak aman.

Untuk memahami lebih mendalam mengenai piramida kecelakaan kerja serta berbagai faktor yang dapat memengaruhi tingkat kecelakaan, simak ulasan berikut ini!

Piramida Kecelakaan Kerja: Pengertian hingga Langkah Pencegahannya

Piramida Kecelakaan Kerja

https://www.plnepi.co.id/media-informasi/ruang-media/epi-news/piramida-kecelakaan-kerja

Piramida kecelakaan kerja merupakan sebuah konsep grafis yang digunakan untuk menggambarkan hubungan yang terjadi di antara berbagai tingkatan kejadian kecelakaan di ruang lingkup kerja.

Piramida tersebut menyajikan struktur hierarkis yang secara sederhana mencakup tiga tingkatan utama, yang terdiri dari insiden yang hampir terjadi atau near misses, kecelakaan minor, hingga kecelakaan fatal.

Adanya piramida kecelakaan kerja memiliki tujuan untuk memberikan gambaran terkait proporsi insiden kecelakaan pada setiap tingkat dan memberikan pemahaman bahwa setiap insiden near miss maupun kecelakaan minor terdapat potensi untuk menjadi insiden yang lebih serius dan fatal.

Berikut penjelasan lebih mendalam terkait 3 tingkatan di piramida kecelakaan kerja, sebagai berikut.

1. Near Misses atau Insiden yang Hampir Terjadi

Near Misses merupakan sebuah peristiwa yang hampir menyebabkan kecelakaan, namun pada akhirnya tidak menimbulkan cedera maupun kerusakan serius.

Pemahaman dan pelaporan terkait insiden yang hampir terjadi di ruang lingkup kerja juga adalah hal yang penting untuk mencegah kecelakaan lebih lanjut yang lebih fatal.

2. Kecelakaan Minor

Kecelakaan minor pada umumnya melibatkan cedera maupun kerusakan di ruang lingkup kerja yang tidak fatal maupun signifikan.

Walaupun tidak menimbulkan kerugian besar dan fatal, namun terjadinya insiden tersebut dapat menjadi sebuah indikasi bahwa adanya masalah keselamatan kerja yang harus segera diselesaikan dan diatasi.

3. Kecelakaan Fatal

Kecelakaan fatal melibatkan kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan dan mengakibatkan kematian.

Walaupun jenis kecelakaan ini memiliki tingkat kejadian yang rendah, namun dapat menimbulkan dampak serius dan memerlukan tindakan pencegahan yang ketat.

Penerapan Piramida Keselamatan di Tempat Kerja

Penerapan Piramida Keselamatan di tempat kerja berkaitan dengan serangkaian langkah serta strategi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mencegah, serta mengelola risiko kecelakaan.

Simak langkah-langkah penerapan piramida kesehatan, berikut ini:

1. Pemahaman Piramida Keselamatan

  • Edukasi karyawan berkaitan dengan konsep Piramida Keselamatan serta pentingnya melaporkan segala insiden near misses.

  • Penekanan pada fakta bahwa sebuah insiden kecil yang terjadi memiliki potensi dan dapat berkembang menjadi sebuah insiden kecelakaan yang lebih serius.

2. Pelaporan Near Misses

  • Membangun budaya dalam ruang lingkup kerja yang mendorong setiap orangnya untuk membuat laporan terkait insiden near misses,

  • Mengimplementasikan sistem pelaporan yang mudah diakses serta anonim yang dapat mendorong partisipasi dari semua karyawan.

3. Analisis Kejadian

  • Mengumpulkan serta menganalisis data berkaitan dengan insiden near misses, kecelakaan minor, serta fatal yang terjadi.

  • Melakukan identifikasi tren serta pola yang dapat digunakan untuk menentukan area risiko potensial terjadinya insiden.

4. Pelatihan dan Kesadaran Keselamatan

  • Membuat pelatihan keselamatan rutin yang dapat membantu meningkatkan kesadaran karyawan akan risiko insiden yang dapat terjadi dan tindakan pencegahannya.

  • Meminta karyawan untuk berpartisipasi dan terlibat dalam pelatihan dan simulasi keselamatan yang dilakukan agar memiliki gambaran terkait tanggapan yang harus dilakukan di situasi darurat.

5. Perbaikan Lingkungan Kerja

  • Memastikan lingkungan kerja yang ada dirancang dan dibuat sedemikian rupa guna meminimalkan risiko kecelakaan di ruang lingkup kerja.

  • Melakukan pemeriksaan dan pengecekan secara rutin pada peralatan, alat kerja, serta infrastruktur guna mencegah dan mendeteksi potensi bahaya yang dapat terjadi.

6. Manajemen Risiko

  • Melibatkan partisipasi setiap karyawan pada proses identifikasi risiko kecelakaan kerja.

  • Melakukan pengembangan dan penerapan strategi manajemen risiko untuk mengurangi potensi terjadinya kecelakaan.

7. Pelatihan Darurat

  • Melaksanakan pelatihan darurat dengan tujuan untuk memastikan bahwa setiap karyawan mengetahui bagaimana cara merespons situasi darurat dengan cepat dan efektif jika suatu saat terjadi.

8. Audit Keselamatan Rutin

  • Melakukan audit keselamatan dalam waktu berkala yang digunakan untuk melakukan evaluasi seberapa efektif program keselamatan yang telah dijalankan.

  • Melibatkan partisipasi pihak yang berkepentingan dalam evaluasi agar memiliki sudut pandang yang lebih beragam.

9. Penerapan Peraturan Keselamatan

  • Memastikan setiap orang yang terlibat mematuhi setiap peraturan keselamatan yang ada dan berlaku.

  • Menjalankan sanksi maupun insentif berdasarkan tingkat kepatuhan serta kinerja keselamatan.

10. Komunikasi dan Keterlibatan Karyawan

  • Membangun saluran komunikasi terbuka di antara pihak manajemen dan karyawan.

  • Merangkul setiap karyawan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan serta perbaikan keselamatan.

Piramida Kecelakaan Kerja Menurut Frank Bird

Selain Herbert William Heinrich, Frank Bird juga melakukan riset yang melibatkan analisis 1.753.498 laporan kecelakaan yang ada di 21 industri. Berdasarkan hasil penelitiannya, ia menghasilkan komposisi baru dalam segitiga piramida kecelakaan, yaitu 1:10:30:600:1200.

Piramida Kecelakaan Kerja Menurut Frank Bird

https://saptasarana.co.id/piramida-segitiga-kecelakaan-kerja-dan-kritiknya/

Namun, karena banyaknya pembuatan segitiga kecelakaan kerja seperti di atas tersebut, terdapat banyak program kecelakaan yang berfokus pada bagian dasar kecelakaan saja,

Di mana, kecelakaan yang terjadi tidak menimbulkan luka. Hal ini dikarenakan, banyak yang menganggap jika kecelakaan yang tidak menimbulkan luka saja tidak dapat dikendalikan, bagaimana dengan kecelakaan besar.

Konsep dan Teori Kecelakaan Kerja Menurut OHSAS

Terdapat beberapa konsep dan teori kecelakaan kerja yang beredar saat ini. Salah satunya adalah OHSAS atau Occupational Health and Safety Assessment Series yang merupakan standar internasional untuk manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang saat ini telah diganti ke ISO 45001 berkaitan dengan SMK3 atau Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

Walaupun begitu, konsep dan teori yang dimiliki OHSAS masih dijadikan acuan oleh banyak orang dalam penerapan K3 baik di perusahaan maupun organisasi, khususnya konsep dan teori kecelakaan kerjanya.

Menurut pendapat OHSAS, kecelakaan kerja merupakan sebuah insiden maupun kejadian yang berhubungan dengan pekerjaan maupun segala hal yang terjadi di ruang lingkup kerja, dan dapat menimbulkan dampak mulai dari cedera, sakit, atau bahkan kematian pada seseorang.

Konsep dan Teori Kecelakaan Kerja Menurut Para Ahli

Untuk lebih memahami seputar kecelakaan kerja, terdapat setidaknya beberapa pendekatan dan pengimplementasian populer yang diutarakan oleh ahli, sebagai berikut.

1. Konsep dan Teori Domino Heinrich

Teori Domino Heinrich merupakan teori yang pertama kali dikemukakan oleh Herbert William Heinrich yang mengibaratkannya sebagai efek domino.

Salah satu karya Heinrich yang paling terkenal adalah bukunya dengan judul Accident Prevention: A Scientific Approach yang diterbitkan ke dalam 3 edisi. Melalui buku tersebut, terdapat banyak konsep keselamatan kerja yang hingga sekarang masih diterapkan, salah satunya teori domino.

Hal yang dimaksud dalam Heinrich adalah bahwa setiap kecelakaan kerja yang terjadi diakibatkan oleh serangkaian peristiwa yang saling berkaitan antara satu sama lain, serupa dengan efek domino jatuh.

Teori ini juga memiliki prinsip, di mana jika salah satu domino jatuh maka juga akan menjatuhkan dan mempengaruhi 4 domino lain yang ada di depannya. Untuk mencegah hal tersebut, maka salah satu domino harus dicabut.

Menurutnya, cara termudah dan langkah paling efektif untuk melakukannya adalah dengan menghilangkan elemen bagian tengah, yaitu “unsafe act or condition” sebagai bentuk preventasi di lapangan.

Teori Domino dalam Buku Accident Prevention

Terdapat 5 elemen maupun level yang membentuk rantai kecelakaan pada Teori Domino Heinrich, yang terdiri dari:

  • Kondisi kerja atau Social Environment and Ancestry, elemen yang mengacu pada kondisi fisik maupun psikologis di tempat kerja yang memiliki kemungkinan membahayakan kondisi kesehatan serta keselamatan karyawan. Seperti contohnya, peralatan kerja yang dalam kondisi tidak baik, rusak, maupun tidak terawat. Lingkungan kerja yang tidak sehat serta tata letak fasilitas yang tidak ergonomis.

  • Kelalaian manusia atau Fault of the Person or Carelessness, merupakan kesalahan yang dilakukan oleh karyawan dalam menjalankan pekerjaan dan tugasnya. Kelalaian yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang pada umumnya bersifat internal. Seperti contohnya, kekurangan pengetahuan dan pengalaman, kurang perhatian, maupun tekanan kerja yang terlalu besar.

  • Tindakan tidak aman atau Unsafe Act or Unsafe Condition, berhubungan dengan tindakan atau perilaku karyawan yang tidak sesuai dengan prosedur pekerjaan yang ada untuk menjaga kondisi aman. Seperti contohnya, penggunaan alat kerja yang tidak sesuai prosedur, mengabaikan aturan keselamatan kerja, hingga menyepelekan risiko kecelakaan yang dapat terjadi.

  • Kecelakaan atau Accident, merupakan peristiwa maupun kejadian yang terjadi secara tidak terduga yang dapat menimbulkan kerusakan fisik maupun kehilangan harta benda. Banyak faktor yang dapat menyebabkan kecelakaan terjadi di lingkungan kerja, mulai dari kondisi kerja yang buruk, kelalaian faktor manusia, maupun tindakan tidak aman, berdasarkan efek domino.

  • Cedera atau Injury, berhubungan dengan kerusakan fisik yang terjadi pada seseorang yang diakibatkan oleh kecelakaan maupun insiden yang terjadi. Cedera termasuk luka ringan, cedera serius, hingga kematian yang dapat terjadi dikarenakan elemen-elemen di atas.

Dalam mencegah kecelakaan kerja, terdapat langkah-langkah yang dapat dilakukan menurut konsep dan teori domino Heinrich, seperti:

  • Memperbaiki kondisi kerja, memastikan tempat kerja dilengkapi dengan penerangan yang memadai, standar peralatan yang layak, serta sistem ventilasi ruang kerja yang baik.

  • Pelatihan keselamatan, memberikan pelatihan kepala setiap pekerja yang terlibat dalam sistem operasional kerja secara berkala untuk memastikan keselamatan mereka tetap terjaga.

  • Penerapan prosedur, menetapkan dan menentukan prosedur kerja yang jelas dan pastikan setiap pekerja menjalankan prosedur yang telah ditetapkan untuk dipatuhi.

  • Pengawasan, melakukan pengawasan secara rutin agar tindakan pencegahan yang telah ditetapkan berjalan dan dilaksanakan dengan baik dilingkungan kerja.

2. Konsep dan Teori Frank E. Bird Petersen

Didasarkan oleh teori domino Heinrich, konsep dan teori kecelakaan kerja menurut Frank E. Bird Petersen menyatakan bahwa kecelakaan dapat terjadi karena adanya kesalahan pada manajemen sistem.

Berdasarkan teori ini, terdapat lima faktor yang dapat memengaruhi terjadinya kecelakaan di lingkungan kerja, sebagai berikut.

  • Kurang Kontrol dan Manajemen atau Lack of Control and Management, yang berkaitan dengan kelemahan pada fungsi manajemen, seperti faktor manajemen kepemimpinan, pengawasan, standar kerja, standar kerja, sampai koreksi kesalahan atau correction error.

  • Konsep Dasar dan Sumber atau Basic Concepts and Origins, yang berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, motivasi, hingga kemampuan fisik serta masalah kerja. Berdasarkan namanya, faktor ini juga mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan karyawan dan pekerjaan yang dilakukan.

  • Gejala Penyebab Langsung atau Immediate Causes and Symptoms, yang seperti namanya meliputi berbagai perilaku tidak aman atau unsafe act serta kondisi tidak aman atau unsafe condition. Contohnya, seperti mengambaikan aturan keselamatan prosedur, menghindari prosedur kerja yang aman, serta kurang memperhatikan ruang lingkup kerja.

  • Kontak Peristiwa atau Accident and Contact, berhubungan dengan kejadian yang secara langsung menyebabkan kecelakaan terjadi. Contohnya, kontak peristiwa atau kejadian mulai dari jatuh, terpapar bahan kimia, maupun tertimpa benda berat yang dapat terjadi akibat gejala penyebab langsung dan sering kali dapat disebabkan oleh dari satu faktor.

  • Kerugian atau Injury Damage and Loss, kerugian yang ditimbulkan cedera maupun kecelakaan di ruang lingkup kerja dapat secara fisik maupun harta benda. Kerugian yang terjadi juga dapat mempengaruhi karyawan maupun pihak perusahaan mulai dari jangka waktu pendek hingga panjang.

Berdasarkan penjelasan di atas, konsep dan teori Frank E. Bird Petersen terkait kecelakaan kerja adalah sebuah kejadian yang terjadi bukan secara acak maupun tiba-tiba, dan kejadian tersebut dapat dicegah melalui upaya yang diterapkan berdasarkan faktor penyebabnya.

Nah, itulah pembahasan mengenai piramida kecelakaan kerja sebuah teori yang dibuat pada tahun 1931 oleh Herbert William Heinrich yang mengemukakan bahwa jika di sebuah tempat kerja terjadi 1 kecelakaan kerja yang sifatnya fatality, maka sebanding dengan 30 kecelakaan kerja yang sifatnya mayor, 300 cedera ringan, 3.000 near-misses, dan 30.000 bersifat unsafe acts.

Berdasarkan penjelasan tersebut menandakan bahwa unsafe acts atau perilaku tidak aman yang ada di lingkungan kerja memiliki potensi menjadi kecelakaan fatal. Oleh sebab itu, sangat penting untuk memulai pencegahan dari awal untuk mengurangi potensi tersebut.

Melalui artikel ini, kita juga sudah membahas mengenai penerapan piramida keselamatan di tempat kerja yang dapat digunakan sebagai langkah pencegahan dan pengelolaan risiko kecelakaan.

Bagi sahabat MyProtection, Perlindungan Kesehatan Prima dari MyProtection hadir sebagai solusi perlindungan kesehatan yang tepat bagi kamu dan keluarga dengan manfaat tambahan Saldo Prima, dengan berbagai keunggulan produk seperti:

  • Manfaat tambahan Saldo Prima yang memberikan penggantian atas pembelian vitamin maupun obat-obatan tanpa perlu melakukan perawatan Rawat Inap maupun Rawat Jalan

  • Santunan tunai harian Rawat Inap di Rumah Sakit untuk penjamin pertama oleh BPJS Kesehatan

  • Pilihan manfaat Rawat Inap dan Rawat Jalan sesuai kebutuhan

  • Pembayaran klaim secara cashless di lebih dari 1.000 Rumah Sakit di Indonesia

  • 24 jam Contact Center dan Case Monitoring

  • Layanan eksklusif Personal Medical Assistance

  • Laporan perhitungan klaim via email

*PT Lippo General Insurance Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

Baca Artikel
Otomotif
5 mins read 04/03/2026
22 Komponen Transmisi Manual dan Fungsi di Dalamnya!

Transmisi mobil terbagi ke dalam dua jenis, yaitu transmisi manual dan otomatis. Berbeda dengan otomatis, transmisi manual memiliki komponen yang lebih kompleks.

Perbedaan utama transmisi manual terletak pada cara perpindahan gigi dan pedalnya, di mana pengemudi harus secara manual mengoperasikannya untuk mengganti gigi.

Oleh karena itu, komponen transmisi manual juga umumnya lebih rumit jika dibandingkan dengan transmisi otomatis. Apa saja komponen tersebut dan fungsinya? Simak pembahasan berikut!

22 Komponen Transmisi Manual dan Fungsi di Dalamnya!

komponen transmisi manual

1. Poros Input Transmisi

Poros input transmisi atau transmission input shaft merupakan komponen transmisi manual yang menjadi poros atau roda gigi yang bekerja bersama kopling yang berfungsi untuk memutar gigi pada gearbox.

2. Gigi Transmisi

Komponen transmisi manual selanjutnya, yaitu gigi transmisi, memiliki fungsi mengubah input tenaga yang dihasilkan oleh mesin menjadi output gaya torsi.

Dengan begitu, pengendara dapat mengatur kecepatan dan daya putar kendaraan yang disesuaikan dengan keadaan dan kondisi jalan.

3. Gigi Penyesuaian

Gigi penyesuaian atau synchroniser memiliki fungsi untuk menyamakan kecepatan putaran antara gigi transmisi, sehingga perpindahan dapat terjadi secara mulus dan aman walaupun dalam keadaan berjalan.

4. Garpu Pemindah

Komponen pada transmisi manual yang satu ini berfungsi untuk memindahkan gigi pada porosnya, yang memungkinkan pengemudi melakukan perpindahan gigi sesuai keinginan dan kebutuhan.

Garpu pemindah menjadi komponen penghubung antara tuas persneling dan mekanisme roda gigi transmisi yang ada pada transmisi manual mobil.

5. Tuas Penghubung

Adanya tuas penghubung memungkinkan tuas persneling yang digerakkan oleh pengemudi diterjemahkan menjadi gerakan pada garpu pemindah guna mengatur perpindahan gigi.

Sederhananya, tuas penghubung menjadi komponen transmisi manual yang meneruskan perintah pengemudi secara efektif.

6. Tuas Transmisi

Tuas transmisi atau pemindah persneling memiliki fungsi untuk mengendalikan dan memindahkan gigi transmisi berdasarkan kondisi jalan dan kebutuhan pengendara.

Adanya komponen ini memungkinkan pengemudi memiliki kontrol langsung berdasarkan kondisi jalan ketika berkendara.

7. Bak Transmisi

Adanya bak transmisi pada mobil manual berfungsi sebagai pelindung komponen lainnya dari kotoran maupun benturan.

Bukan hanya itu, komponen ini juga menjadi wadah penampung oli pelumas serta dudukan bagi berbagai komponen penting seperti bearing, poros input, dan poros output.

8. Output Shaft

Komponen selanjutnya, yaitu output shaft yang berguna meneruskan tenaga putar dari sistem transmisi ke propeller shaft yang memungkinkan roda kendaraan bergerak.

Bukan cuma itu, output shaft juga dapat digunakan sebagai dudukan persneling di sebuah mobil.

9. Bantalan atau Bearing

Adanya bantalan atau bearing pada transmisi manual dapat membantu dalam mengurangi gesekan antarkomponen, seperti input shaft, output shaft, serta counter gear.

Dengan begitu, komponen-komponen tersebut tetap dapat bekerja dengan baik, mengurangi keausan dan panas, hingga terjaga efisiensinya.

10. Counter Gear

Counter gear atau gigi pada transmisi manual memiliki fungsi untuk meneruskan tenaga dari input shaft ke output shaft.

Adanya komponen ini memungkinkan transmisi untuk mengatur rasio gigi yang tepat dengan kecepatan kendaraan dan torsi mesin.

Dengan begitu, komponen ini memungkinkan mobil untuk mengubah kecepatan berdasarkan kebutuhan dan keinginan pengendara yang krusial.

Bukan hanya komponen-komponen di atas, terdapat banyak komponen lain yang menyusun transmisi manual, seperti reverse gear, hub slave, speedometer gear, wadah transmisi, oil seal transmisi, control rod, shift rod end, clutch hub sleeve, hub sleeve, shifting key, spring key, hingga interlock system yang bekerja mendukung satu sama lain.

*PT Lippo General Insurance Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

Baca Artikel