Home
/
Articles
/
Automotive
/
4 Camshaft Functions You Need to Know in Cars!

4 Camshaft Functions You Need to Know in Cars!

26 March 2026 | MyProtection News Jakarta

The presence of a camshaft in a car allows the engine to control the timing of the intake and exhaust valves, which regulate the entry of air and fuel as well as the release of exhaust gases. This process significantly improves both performance and efficiency.

However, many people are still unfamiliar with the functions of this crucial engine component.

In this article, we will discuss some of the most important camshaft functions that you may not know about. Let’s dive in!

4 Camshaft Functions You Need to Know in Cars!

The camshaft in a car is one of the key components in the combustion process and helps maintain engine efficiency. So, what are the main functions of a camshaft in a car? Here’s the explanation!

1. Opening and Closing Valves According to the Firing Order

The first function of the camshaft is to open and close the valves in accordance with the firing order.

On the camshaft, the part responsible for this process is called the cam lobe, which comes in two shapes, which is a round section that closes the valve and an elongated section that presses the valve open.

2. Rotating the Distributor Shaft

Another function of the camshaft is to rotate the distributor's shaft, depending on the type of engine used. This is usually located in the ignition system.

As the camshaft rotates, it sends signals to the distributor's shaft, causing it to rotate and perform its function accordingly.

3. Driving the Fuel Pump

In addition to controlling the valves, the camshaft also serves to drive the fuel pump in certain vehicles.

This function specifically applies to cars that still use mechanical fuel pumps. In older engine systems, the mechanical fuel pump relies on the camshaft’s motion to deliver fuel to the carburetor.

This mechanism ensures a steady fuel supply so that the engine can run properly.

However, with advancements in automotive technology, this system has largely been replaced. Most modern cars now use electric fuel pumps powered by electricity, eliminating the need for direct camshaft operation.

Electric fuel pumps are considered more efficient, practical, and better suited for modern fuel injection systems.

Therefore, the camshaft’s role as a driver for mechanical fuel pumps is mostly relevant to older vehicles, while modern systems rely on electric pumps.

4. Sensor Point for Rotation Detection

The final function of the camshaft is to serve as a sensor point to detect its rotations.

This role allows the camshaft to accurately determine rotation angles, ensuring smooth operation without causing defects or damage to other engine components.

With this function, engine performance becomes more precise, as each movement is detected with accuracy.

However, not every car engine uses this feature. This function is typically found in engines with EFI or Electronic Fuel Injection technology.

In EFI engines, the camshaft is specially designed with a reference gear that integrates with a blade sensor.

This design enables the camshaft to work with the sensor to automatically determine its position and rotation angle.

The mechanism is simple yet highly effective. The engine’s gears help the camshaft detect each rotation angle precisely. As the camshaft turns, the sensor reads the gear movement and ensures accurate rotational data.

This information is then used by the EFI system to regulate fuel injection and ignition timing.

As a result, the camshaft sensor function not only ensures precise rotation but also enhances overall engine efficiency and performance.

*PT Lippo General Insurance Tbk is licensed and supervised by Financial Services Authority (OJK)

Was this article helpful?
Subscribe to our newsletter
Click subscribe to subscribe to our article newsletter
Share MyPro on
facebook
twitter
instagram
About MyPro+ News Jakarta
MyPro+ is one of the pioneer portals for purchasing health insurance and general insurance online which can be accessed via website and application platforms since 2017.
Recommended Articles
All Category
5 mins read • 27/03/2020
Cicil Premi Asuransi di MyProtectionTanpa Kartu Kredit? Bisa Banget!

Hi, Sahabat MyProtection,

Ada kabar super baik, nih! Sekarang bayar cicilan premi asuransi di MyProtection tidak perlu kartu kredit! Anda bisa memilih fasilitas cicilan 0 – 12 bulan bulan dengan Kredivo. Sekarang, punya asuransi makin praktis dan mudah bayarnya.

Berikut ini cara menggunakan Kredivo untuk mencicil premi asuransimu:

  1. Pilih asuransi yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Misalnya Perlindungan Kesehatan Prima yang mempunyai fitur Saldo Prima untuk beli obat tanpa berobat.
  2. Pilih manfaat yang Anda butuhkan seperti rawat jalan, rawat inap & bedah, lalu isi data diri dengan lengkap
  3. Masuk ke menu “MyCart” lalu klik Bayar
  4. Dalam laman pembayaran, Anda bisa memilih ppembayaran dengan Kredivo. Cicilan premi pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Terdapat pilihan cicilan 0, 3, 6, dan 12 bulan!
  5. Setelah pembayaran selesai, artinya Anda dan keluarga siap #DijagainTerus sama MyProtection!

Salam,
Sahabat MyProtection

Read Article
Health
5 mins read • 30/04/2025
Syarat Donor Ginjal yang Harus Dipenuhi dan Risiko Menjadi Donor

Terdapat beberapa persyaratan medis dan hukum yang harus dipenuhi untuk melakukan donor ginjal, mulai dari kondisi kesehatannya, hukum yang harus dipatuhi, hingga persetujuan medis berkaitan dengan prosedur yang akan dilakukan.

Sebagai salah satu organ tubuh dengan fungsi penting, yaitu menyaring racun dalam darah dan membuangnya melalui urine. Orang-orang dengan penyakit ginjal kronis pada umumnya memiliki dua pilihan utama sebagai langkah pengobatannya.

Pertama, melakukan dialisis atau cuci darah, di mana darah akan disaring oleh mesin maupun perut dengan bantuan tabung khusus, atau yang kedua adalah melakukan transplantasi atau donor ginjal yang sehat.

Untuk lebih memahami seputar donor atau transplantasi ginjal, mengapa seorang pasien harus melakukan transplantasi hingga syarat apa saja yang harus terpenuhi untuk melakukannya, simak selengkapnya di artikel ini!

Apa Itu Donor Ginjal?

apa itu donor ginjal

pexels

Donor atau transplantasi ginjal merupakan sebuah prosedur pembedahan yang dilakukan dengan menempatkan ginjal yang sehat, baik dari donor yang masih hidup maupun sudah meninggal ke tubuh seseorang yang membutuhkan.

Hal ini dikarenakan ketika kemampuan menyaring organ ginjal seseorang sudah tidak dapat bekerja dengan baik, tingkat cairan serta limbah berbahaya dapat menumpuk di tubuh.

Seseorang akan membutuhkan transplantasi ginjal ketika ginjalnya telah kehilangan sekitar 90 persen kemampuannya yang dapat disebabkan beberapa penyebab umum penyakit ginjal tahap akhir, seperti:

  • Diabetes

  • Glomerulonefritis kronis atau peradangan dan jaringan parut pada filter kecil di dalam ginjal

  • Penyakit ginjal polikistik

Terdapat beberapa gejala yang gagal ginjal kronis stadium akhir yang dapat timbul pada seorang pasien, antara lain:

  • Kulit terlihat pucat dan kering

  • Rasa mual dan muntah

  • Rasa sesak napas

  • Bagian lengan, leher, kaki, sampai paru-paru mengalami pembengkakan

  • Sering mengalami penurunan kesadaran

  • Rasa gatal di sekujur tubuh

  • Nafsu makan menghilang

  • Sering mengalami kram otot

Macam Transplantasi Ginjal

Dalam melaksanakan prosedur pencakokan ginjal, macamnya dapat dibagi menjadi dua, berikut penjelasannya.

1. Deceased-donor kidney transplant

Macam pertama, yaitu deceased-donor kidney transplant yang merupakan prosedur transpantasi organ ginjal dari pendonor yang baru saja meninggal dunia.

Prosedur ini baru dapat dilakukan setelah mendapatkan persetujuan atau izin dari keluarga maupun atas dasar keinginan dari pendonor ketika masih hidup.

2. Living-donor kidney transplant

Selanjutnya, living-donor kidney transplant yang merupakan prosedur transplantasi yang dilakukan dari salah satu organ ginjal pendorong yang masih hidup. Prosedur transplantasi ini yang saat ini dapat dilakukan di Indonesia.

Syarat Medis yang Harus Dipenuhi Pendonor Ginjal

Untuk menjadi pendonor ginjal, terdapat beberapa kriteria umum yang harus dipenuhi oleh seseorang, yaitu:

  • Berusia 18 hingga 60 tahun

  • Kondisi kesehatan tubuh secara fisik dan mental yang baik

  • Golongan darah yang sama dengan penerima donor

  • Tidak memiliki penyakit ginjal, seperti batu ginjal atau gagal ginjal

  • Tidak memiliki penyakit menular, seperti HIV/AIDS atau hepatitis

  • Tidak menderita penyakit kanker, paru, jantung, tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan elektrolit, serta gangguan pembekuan darah

  • Tidak merokok

  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang atau mengonsumsi alkohol

  • Memiliki berat badan ideal atau indeks massa tubuh < 30 kg/m2

  • Tidak dalam kondisi hamil

  • Belum pernah menerima transplantasi sebelumnya

  • Memiliki tekanan darah normal

  • Tidak memiliki penyakit auto imun

  • Tidak mengonsumsi obat-obatan secara rutin

  • Tidak mengalami penyakit pembuluh darah

Syarat Administratif yang Harus Dipenuhi Pendonor Ginjal

Selain syarat medis, terdapat syarat administratif yang harus dipenuhi pendonor ginjal berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 38 Tahun 2016, yaitu:

  • Menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter yang memiliki surat izin praktik atau SIP.

  • Berusia di atas 18 tahun yang harus dibuktikan melalui dokumen identitas seperti KTP, kartu keluarga, maupun akta kelahiran.

  • Memiliki alasan yang jelas untuk menyumbangkan organ tubuh ke penerima organ secara sukarela.

  • Mendapat persetujuan dari suami atau istri, anak yang sudah dewasa, orang tua kandung, maupun saudara kandung donor.

  • Membuat pernyataan bahwa pendonor memahami indikasi, kontraindikasi, risiko, prosedur transplantasi, panduan hidup pasca transplantasi, serta pernyataan persetujuannya.

  • Membuat pernyataan tidak melakukan penjualan organ maupun perjanjian khusus lain dengan pihak penerima organ.

Persiapan Donor Ginjal

Sebelum melakukan proses transplantasi ginjal, terdapat beberapa persiapan yang harus dilakukan dan dipenuhi calon pendonor, seperti:

  • Pemeriksaan golongan darah untuk memastikan golongan darah antara pendonor dan penerima sama atau cocok.

  • Pemeriksaan crossmatch yang dilakukan dengan cara mencampurkan sampel darah pendonor dengan penerima untuk melihat reaksi kecocokan darah agar tidak ada antibodi yang dapat menyebabkan komplikasi atau kegagalan pada prosedur.

  • HLA typing yang dilakukan untuk melihat kecocokan penanda genetik tertentu antara pendonor dengan penerima.

  • Pemeriksaan darah lainnya, yang biasanya meliputi fungsi organ dan pemeriksaan serologis.

  • Pemeriksaan urine yang meliputi urinalisis, tes protein urine, mikroalbuminuria, serta perbandingan kreatinin yang digunakan untuk memastikan fungsi ginjal pendonor berfungsi dengan baik.

  • Foto rontgen dada

  • Pemeriksaan ginjal

  • EKG

  • Pemeriksaan fisik menyeluruh

Risiko Prosedur bagi Pendonor Ginjal

Terdapat beberapa risiko yang dapat dihadapi sebagai seorang pendonor ginjal, mulai dari hipertensi, gagal ginjal, dan berbagai efek samping pasca prosedur.

Berikut penjelasan lebih dalamnya berikut ini:

1. Risiko Jangka Panjang

Berikut ini beberapa risiko jangka panjang yang dapat timbul sebagai pendonor ginjal dan hidup dengan satu ginjal.

  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi, hal ini dikarenakan hidup dengan satu ginjal dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi seseorang.

  • Gagal ginjal, walaupun jarang terjadi tetap adanya kemungkinan organ ginjal yang tersisa mengalami kerusakan ataupun mengalami gagal fungsi.

  • Proteinuria, di mana protein di dalam urine dapat menjadi indikasi awal terjadinya kerusakan pada organ ginjal.

  • Penyakit ginjal lainnya, di mana risiko terkena penyakit ginjal sebagai pendonor juga akan meningkat.

2. Risiko Operasi dan Pasca Operasi

  • Infeksi yang dapat terjadi baik selama operasi maupun pasca operasi sama seperti dengan berbagai prosedur lainnya.

  • Pendarahan selama maupun sesudah prosedur juga dapat terjadi dan berisiko berbahaya.

  • Gumpalan darah yang dapat berbahaya dan menyebabkan kerusakan serius pada ginjal hingga menyebabkan masalah pada tubuh atau bahkan kehilangan nyawa.

  • Komplikasi bedah yang dapat terjadi selama maupun sesudah operasi seperti pendarahan, infeksi, dan berbagai masalah terkait anestesi juga dapat membahayakan pendonor.

  • Efek samping obat yang digunakan untuk mencegah penolakan ginjal atau imunosupresan juga sering kali memiliki efek sampingnya tersendiri.

Risiko Kesehatan pada Donor Ginjal Hidup

Donor ginjal hidup masih penjadi prosedur pilihan terbaik bagi pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir yang dapat mengganti fungsi ginjal yang rusak tersebut.

Namun, sebagai donor ginjal hidup seseorang juga akan terpapar dengan berbagai risiko kesehatan serta berbagai aspek psikososial yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu biasa. Untuk lebih memahaminya, simak pembahasan berikut ini.

1. Risiko Gagal Ginjal Stadium Akhir

Sebagai pendonor ginjal hidup, salah satu risiko yang dihadapi adalah risiko gagal ginjal stadium akhir.

Menjalani nefrektomi atau prosedur bedah dengan mengangkat sebagian maupun seluruh ginjal bagi pendonor ginjal hidup dapat mengalami penurunan akut laju filtrasi glomerulus atau LFG hingga 25 sampai 40%. Walaupun begitu, fenomena tersebut dengan risiko gagal ginjal masih diperdebatkan.

Berdasarkan data dari 96.217 donor ginjal hidup serta partisipan sehat di Amerika Serikat menunjukkan bahwa insidensi kumulatif penyakit ginjal stadium akhir pada 15 tahun terakhir menunjukkan angka sebesar 30,8 per 10.000 dibandingkan dengan partisipan sehat dengan angka 3,9 per 10.000.

2. Risiko Pembedahan pada Donor Ginjal Hidup

Risiko kematian serta komplikasi setelah operasi pada donor ginjal hidup memiliki angka yang sangat rendah. Hal ini juga ditunjukkan berdasarkan penelitian yang melibatkan 80.347 donor di Amerika Serikat yang menunjukkan bahwa tingkat kematian dalam periode 90 hari setelah nefrektomi adalah 3,1 per 10.000.

Pada studi lain menggunakan data dari 98 rumah sakit pendidikan di Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa komplikasi pasca nefrektomi pada donor ginjal hidup terjadi pada 16,8% pasien yang meliputi masalah gastrointestinal (4,4%), pendarahan (3%), masalah pernapasan (2,5%), serta komplikasi terkait pembedahan maupun anestesi (2,4%).

3. Risiko Pengaruh Usia Donor dan Resipien

Berbagai penelitian juga dilakukan guna mengurangi risiko bagi donor ginjal hidup serta meningkatkan hasil yang diharapkan setelah prosedur dilakukan.

Salah satu faktor penting yang dipertimbangkan dalam melakukan prosedur donor ginjal adalah memeriksa kecocokan usia antara donor dengan resipien. Aslam et al juga mengungkapkan bahwa kesesuaian usia antara donor dan resipien juga dapat mendukung kelangsungan hidup pasien dan organ yang dicangkokkan.

Pada penelitian retrospektif, Aslam et al mempelajari hasil transplantasi ginjal dari donor hidup berdasarkan usia donor dengan resipien. Donor dan penerima dikelompokkan ke dalam kategori usia muda dengan usia di bawah 50 tahun dan usia tua dengan usia di atas 50 tahun.

Berdasarkan 347 prosedur donasi ginjal hidup, ditemukan bahwa kelompok donor usia muda dengan penerima usia tua memiliki proporsi penerima yang merokok sebanyak 53,6% dan hepatitis C sebanyak 5,5% namun lama masa rawat lebih pendek, yaitu 5,3 hari.

Kelompok donor usia tua dengan penerima usia muda memiliki lama masa rawat terpanjang, yaitu 7,4 hari, namun masa iskemik dingin lebih pendek, yaitu 2,3 jam.

Tidak ada perbedaan signifikan terkait penundaan fungsi cangkok antar kelompok. Perbedaan tingkat komplikasi yang signifikan terlihat pada kejadian pendarahan dalam 30 hari yang paling tinggi ditemukan pada kelompok donor usia tua dengan penerima usia tua, yaitu 7,7%.

4. Risiko Preeklampsia pada Wanita Donor Ginjal

Risiko preeklampsia dan hipertensi selama kehamilan pada wanita yang menjadi donor ginjal hidup adalah faktor penting yang perlu dipertimbangkan.

Studi kohort retrospektif di tahun 2015 yang melibatkan 85 wanita donor ginjal serta 510 wanita non-donor ginjal menemukan bahwa risiko preeklampsia dan hipertensi selama kehamilan meningkat 2,4 kali lipat pada wanita donor ginjal.

Pada studi kohor yang dilakukan pada tahun 2019 dan melibatkan 59 wanita donor ginjal juga ditemukan bahwa adanya kecenderungan peningkatan risiko preeklampsia atau eklampsia pada donor ginjal, walaupun tidak signifikan secara statistik.

Namun, pada donor ginjal yang berusia kurang atau sama dengan 30 tahun, risiko preeklampsia atau eklampsia dilaporkan meningkat 4 kali lipat.

Sebaliknya, studi kohor retrospektif lain pada tahun 2018 yang melibatkan 225 donor dengan 426 kehamilan menemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan terkait hipertensi, preeklampsia, maupun luaran komposit.

5. Luaran Psikososial Pasca Donasi Ginjal

Perubahan kualitas hidup dan risiko finansial merupakan dua aspek penting yang perlu dipertimbangkan oleh donor ginjal hidup. Rodrigue et al juga mengungkapkan dalam sebuah studi bahwa donor ginjal hidup melaporkan perubahan minimal terkait mood, citra diri, kekhawatiran tentang gagal ginjal, kepuasan hidup, serta stabilitas keputusan hingga dua tahun setelah berdonasi.

Di mana, hasil tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol sehat non-donor.

Secara khusus, jumlah kasus secara khusus juga relatif cukup rendah dengan angka gangguan mood 16%, kekhawatiran gagal ginjal 21%, citra diri 13%, hingga ketidakpuasan hidup 10%.

Meskipun donasi ginjal hidup sering dianggap sebagai prosedur yang tidak memerlukan biaya khusus, donor tetap dapat mengalami risiko finansial. Biaya yang dikeluarkan oleh calon donor ginjal hidup dapat mencakup biaya langsung dan tidak langsung dari proses donasi, seperti biaya perjalanan, obat-obatan, kehilangan waktu kerja, dan biaya untuk tanggungan.

Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa sekitar 92% donor ginjal hidup mengeluarkan biaya langsung sebesar US$ 433, dan hampir sepertiga donor mengalami kehilangan pendapatan pada tahun pertama setelah donasi sebesar US$ 2712.

Penelitian serupa di Kanada melaporkan bahwa 98% donor ginjal hidup mengeluarkan biaya rata-rata sebesar US$ 1254, dan sebanyak 20% donor mengalami kehilangan pendapatan hingga US$ 5534.

Selain itu, aspek psikososial juga memainkan peran penting dalam kesejahteraan donor ginjal hidup. Donor mungkin mengalami perubahan dalam hubungan sosial dan dukungan emosional setelah donasi.

Beberapa donor melaporkan peningkatan rasa kepuasan dan makna hidup karena telah membantu orang lain, sementara yang lain mungkin merasa cemas atau khawatir tentang kesehatan mereka di masa depan.

Penting bagi calon donor untuk mendapatkan konseling dan dukungan yang memadai sebelum dan setelah prosedur untuk memastikan bahwa mereka siap secara emosional dan psikologis.

Di sisi lain, risiko finansial yang dihadapi oleh donor ginjal hidup tidak hanya terbatas pada biaya langsung dan kehilangan pendapatan.

Donor juga mungkin menghadapi biaya tambahan yang tidak terduga, seperti biaya medis yang tidak ditanggung oleh asuransi, biaya perawatan jangka panjang, dan biaya untuk mengatasi komplikasi yang mungkin timbul setelah donasi.

Oleh karena itu, penting bagi calon donor untuk mempertimbangkan semua aspek finansial sebelum memutuskan untuk mendonorkan ginjal mereka.

Secara keseluruhan, meskipun donasi ginjal hidup dapat memberikan manfaat besar bagi penerima, calon donor harus mempertimbangkan dengan cermat semua risiko dan dampak yang mungkin terjadi, baik dari segi kesehatan fisik, psikososial, maupun finansial.

Dukungan yang memadai dari keluarga, teman, dan profesional kesehatan sangat penting untuk membantu donor menghadapi tantangan yang mungkin timbul setelah donasi.

Nah, itulah penjelasan seputar donor ginjal yang harus kamu ketahui, mulai dari apa yang dimaksud dengan transplantasi, syarat, hingga berbagai risiko yang dapat timbul dari prosedur tersebut.

Penting untuk melakukan konsultasi ke dokter terlebih dahulu ketika ingin berobat maupun melakukan prosedur apapun. Asuransi kesehatan hadir sebagai langkah preventif yang dapat kamu gunakan untuk membantu melindungi finansial dan memastikan akses ke perawatan kesehatan yang dibutuhkan.

Kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi kesehatan juga dapat dilihat melalui data dari AAJI atau Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia di mana sepanjang tahun 2024, klaim asuransi naik 16,4% secara tahunan menjadi Rp 24,18 triliun.

Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa asuransi kesehatan sebagai langkah preventif baik sebagai perlindungan finansial maupun kesehatan juga sangatlah krusial untuk dipahami.

MyProtection hadir memberikan perlindungan kesehatan terbaik bagi kamu dan anggota keluarga dengan manfaat tambahan Saldo Prima melalui Perlindungan Kesehatan Prima.

Berikut ini beberapa keunggulan produk Perlindungan Kesehatan Prima yang harus kamu ketahui:

  • Manfaat tambahan Saldo Prima ya memberikan penggantian atas pembelian vitamin maupun obat-obatan tanpa perlu melakukan perawatan Rawat Inap maupun Rawat Jalan.

  • Santunan tunai harian Rawat Inap di Rumah Sakit untuk penjamin pertama oleh BPJS Kesehatan

  • Pilihan manfaat Rawat Inap dan Rawat Jalan sesuai kebutuhan

  • Pembayaran klaim secara cashless di lebih dari 1.000 Rumah Sakit di Indonesia

  • 24 jam Contact Center dan Case Monitoring

  • Layanan eksklusif Personal Medical Assistance

  • Laporan perhitungan klaim via email

*PT Lippo General Insurance Tbk berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

Read Article
All Category
5 mins read • 03/09/2021
Mudah Lelah dan Ngantuk Seharian? Mungkin Ini Penyebabnya

Hi, Sahabat MyProtection!

Aktivitas fisik yang intens tentu saja akan membuat tubuhmu lelah. Namun, bagaimana jika kamu merasa lelah dan ngantuk seharian secara terus-menerus? Atau bagaimana jika kamu merasa lelah meskipun sudah beristirahat dan tidur yang cukup?

Menurut Healthline.com, ada beberapa alasan mengapa kamu mudah lelah dan ngantuk seharian.

Kurang Istirahat atau Salah Waktu Istirahat

Jika kamu kurang beristirahat, tentunya tubuh akan mudah lelah keesokan harinya. Tubuh akan mengeluarkan sinyal kelelahan seperti sering menguap, perasaan mengantuk pada jam produktif, hingga kualitas mood yang menurun. Hal yang sering kali kita lupakan adalah anak-anak maupun orang dewasa membutuhkan jadwal tidur teratur untuk berfungsi dengan baik keesokan harinya. Riset membuktikan jadwal tidur yang berantakan bisa memunculkan gejala kelelahan pada tubuh.

Kurang Bergerak dan Olahraga

Melakukan aktivitas fisik yang intens memang bisa membuat tubuh lelah, tetapi sekaligus membangun stamina tubuh serta imunitas terhadap penyakit. Sebaliknya, jika kamu kurang berolahraga maka tubuh akan menjadi lebih cepat lelah meskipun kamu tidak melakukan kegiatan berat seharian. Hal ini sering dirasakan oleh penganut sedentary lifestyle. Orang dengan sedentary lifestyle menghabiskan banyak waktu melakukan aktivitas yang membakar kalori sedikit, seperti duduk atau rebahan. Yuk, mulai sekarang biasakan diri berolahraga dengan rutin!

Stress dan Depresi

Kadar stress yang tinggi bisa membuat tubuh terasa mudah lelah. Studi membuktikan bahwa salah satu gejala stress berlebihan adalah kelelahan dan perubahan suasana hati. Ketika penyebab stress tidak segera diatasi, maka skor rasa lelah yang dialami seseorang cenderung makin tinggi.

Tentu saja dalam berkegiatan sehari-hari, stress adalah hal yang tak terhindarkan. Langkah yang bisa kamu ambil adalah meregulasi tingkat stress dengan meditasi, berolahraga, atau teknik lainnya. Menerapkan pola pikir sehat juga bisa membantu kamu mengatasi rasa stress dan khawatir berlebihan.

Sindrom Kelelahan Kronis

Sindrom kelelahan kronis atay chronic fatigue syndrome dapat diidentifikasi dengan rasa kelelahan yang luar biasa meskipun penderitanya mendapatkan istirahat yang cukup. Rasa kelelahan ini mengganggu kegiatan harian pengidapnya. Gejala lain yang timbul dari sindrom ini adalah nyeri otot dan sendi, radang tenggorokan yang terjadi secara berulang, dan sakit kepala.

Jika kamu atau orang yang kamu kenal mengalami gejala ini selama kurang lebih 4 bulan terakhir, maka konsultasi ke dokter sangat disarankan.

Kurang Asupan Gizi

Beberapa kandungan gizi di bawah ini bisa menimbulkan gejala kelelahan jika tidak dipenuhi dengan baik:

  • Zat besi (bisa menyebabkan anemia dan kelelahan)
  • Protein
  • Hidrasi atau air mineral
  • Kekurangan asupan kalori akibat pola makan tak teratur atau porsi makan kurang tepat

Efek Samping Penyakit

Terdapat beberapa gejala penyakit yang bisa membuat kamu merasa lelah seharian, contohnya seperti diabetes, kelenjar tiroid, dan anemia. Jika kamu sudah mendapatkan istirahat cukup tetapi merasakan gejala kelelahan dalam waktu lama serta perubahan dalam tubuh lainnya, segera periksakan diri ke dokter. Jangan lupa kamu juga bisa gunakan fitur konsultasi dokter online dari Perlindungan Kesehatan Prima dan HealthPlus+ Family agar kamu mendapatkan pengarahan dari ahlinya!

Salam,
Sahabat MyProtection

Read Article